Jumat, 02 Oktober 2015

gangguan psikis

Sejak lama, saya seperti orang gila. tulisan ini dulu pernah saya posting. tapi sy sembunyikan karena tak sepenuhnya benar terjadi pada diri saya. Semenjak lulus SMA rasanya bertambah parah. kadang perasaan sedih tiba-tiba muncul. kebiasaan buruk selalu saya lakukan berulang lagi. self injury. tak heran ketika orang bertanya "kenapa wajah kamu?" dan yang lainnya. itu semua karena ulah saya sendiri. silet, jarum dan segala benda pasti saya gunakan. jika tidak ada saya bisa menyakiti dengan organ tubuh saya sendiri. membenturkan, menampar, menjambak hal yang sudah biasa. Dari kecil ketika punya masalah. Orientasi saya selalu mengarah ke "bunu diri". bahkan saya ingat saat saya SD hal buruk pernah saya keluarkan dari mulut saya. "Tuhan Jahat!!" kata itu keluar saat saya SD. Kata yang tak pantas diucapkan dan tak lazim diucapkan seorang anak kecil. setiap kali saya mengatakan ingin bunuh diri, orang lain pasti tertawa mendengarnya. saat masih kecil saya ingat sekali saya sering mendapat perlakuan kurang baik. satu kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan yaitu ketika jam pulang sekolah sore, saya berjalan sendiri. di saat itu ada satu orang anak perempuan berkulit putih dan bertubuh besar dan seorang anak laki-laki kurus memanggil saya. mereka sepertinya bersaudara. mereka memanggil saya dr depan rumahnya. dan saya menghampirinya. awalnya mereka hanya mengajak berkenalan. Saya pun dengan mudah menghampirinya, maklum saat itu saya masih kecil. saya menganggap semua orang itu baik, tapi setelahnya saya di ancam untuk mengambil buah di dekat rumahnya, seingat sy itu milik tetangganya. namun saya menolak permintaanya. lalu tiba2 saja mereka mengambil paksa tas yang saya bawa dan mengeluarkan seluruh isi tas saya ke tanah bersemen. Merka mengancam akan membuang barang-barang saya termasuk iqro saya yang akan diceburkan ke dalam pot besar berisi air. pot besar untuk tanaman bunga teratai. saat itu, sy sedikit lupa dengan kejadiannya. tiba2 saja dia mengancam sy lagi. dia memegang pipi saya, dengan tangannya yg besar dia mengacungkan pensil di depan wajah saya. dia ingin mencekoki saya dengan pensil milik saya. saya ingat pensil itu seperti akan dimasukan ke mulut saya. dari perlakuan buruk yg saya sering alami. apa mungkin saya seperti ini karena pernah menjadi korban bully? terlepas dr semuanya, menurut saya pribadi. sepertinya banyak faktor yg menyebabkan saya seperti ini. beberapa hal yang tidak bisa semuanya diceritakan. Ketakutan yang begitu besar serta dihantui kecemasan membuat saya diam-diam sering menangis. Ditambah lagi ini terbawa hingga saat malam dan membuat saya tak bisa tidur. setiap malam tidur menghadap ke tembok menyembunyikan wajah. Kadang kecemasan datang tanpa sebab, bahkan dulu saya sering sekali sampai berhalusinasi. Dengan perasaan aneh yang saya miliki seperti takut ketika akan berhadapan dengan lingkungan baru sampai-sampai semalaman saya menangis, sering sedih tiba-tiba. Emosi tak terkontrol dan sebagainya. Mulai kuliah saya mencoba berani untuk memeriksakan diri saya. di antar sahabat saya "A" sy datang ke sebuah klinik di sana sy mendapat diangnosa "perpreniue disorder" akhirnya untuk memastikan saya dirujuk untuk datang ke spesialis jiwa. sy meminta utk ke RSUD. selang beberapa hari sy kembali di antar sahabat saya ke RSUD. tapi, sesampainya disana sy dsuruh menjalani psikotes. padahal sudah jelas dlm surat rujukan terdapat diagnosanya, tp mengapa saya harus mnjalani psikotes?. alhasil, saya menolaknya karena sy ingin segera butuh pengobatan. selang beberapa minggu kemudian sy mncoba berobat ke rs swasta diantar sahabat saya "T" disana sy mendapat diagnosa "depresi" depresi berat. awalnya dokter menawari sy obat tidur. ya karena saya mengalami gangguan tidur. namun sy menolaknya karena sy takut ketergantungan. akhirnya saya diberi obat lain. obat ini diminum menjelang tidur dan saya harus kontrol setiap 2mggu sekali. tp karena kesibukan kuliah. hal itu sulit dilakukan. ketika obat habis, yang saya lakukan adalah mencari obat itu ke apotek dan lainnya. seharusnya saya hanya meminun 1 kali sehari tp sy kadang justru minun 2obat sekaligus. entah kenapa sepertinya ada yg salah dengan diri sy. saya tak yakin diagnosa itu benar, saya sudah 3 kali berobat tp selalu di diagnosa berbeda. lalu apa yg harus sy lakuan. orientasi sy terus mengarah ke bunuh diri. sy bisa saja melakukannya dan sy berani melakukannya. kenapa tidak? sy saja berani menyakiti diri sy. tp satu hal yg selalu megurungkan niat saya ketika saya sadar agama sy tak membolehkan bunuh diri. jika saya dibolehkan mugkin sy akan melakukanaya. tp ini semua tak patut dcontoh. saya memposting bukan karena saya ingin dikasihani. saya ingin orang di luar sana tak melakukan seperti apa yang saya lakukan. saya sebenarnya takut jika ada orang yang mengenal saya membaca posting ini. mungkin mereka akan berkata "Ah, lebay lo!!" "Mungkin lagi puber jadi galau aja." atau yang lainnya. saya yakin sebagian orang di luar sana pasti ada yang mengalami hal yang sama. Terlihat lucu dan sepele jika kalian tak merasakannya sendiri. jika teman yang mengenali saya membaca tulisan ini, saya harap mereka tak bercerita kepada orang lain atau menanyakan hal ini kepada saya. untuk orang di luar sana saya harap dapat segera ke psikiater utk pengobatan.

Kamis, 06 November 2014

Mawar Hitam- eps2



Pagi telah berlalu. Matahari mulai menjulurkan panasnya. Bunyi suara jangkrik masih terdengar sesekali di telinga mereka. Semua calon anggota PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling-Remaja) melakukan kegiatan terakhirnya yang diberi judul “Penanaman Seribu Pohon” sebenarnya tanaman yang di tanam di hutan tidak pasti mencapai seribu pohon. Begitu banyaknya bakal tanaman yang akan di tanam dan tak terhitung jumlahnya membuat Aldi selaku panitia memberikan judul “Penanaman Seribu Pohon”. Maklum, di Kota Bandung banyak lahan hijau yang digantikan sebagai perumahan atau villa membuat udara di Bandung saat ini tak sesejuk dahulu. Oleh karena itu Aldi bersama panitia lainnya melakukan kegiatan tersebut bersamaan dengan perekrutan anggota ekstrakulikuler baru dengan tujuan untuk membantu hijaunya kembali lahan yang ada sehingga terciptanya udara yang bersih dan sehat khususnya di kota Bandung. Melati ditemani Rafli melakukan penanamannya yang kesekian kalinya, terlihat wajah yang berseri di wajah mereka. Aldi dan Rena juga masih disibukan dengan membantu adik-adik kelas menaman pohon. Semua turut berkontribusi. Semua tangan belepotan terkena tanah yang bercampur aduk dengan air. Meskipun begitu tak menyurutkan niat Aldi, Rena, Rafli dan Melati beserta peserta lainnya untuk tetap melanjutkan kegiatan.
                 Hampir tiga jam telah berlalu, target yang diinginkan selesai. Dilihatnya oleh Melati disekelilingnya penuh dengan warna hijau. Membuat Melati merasa berputar ke masa lampau di saat Melati masih bisa melihat pemandangan yang menyegarkan sebelum akhirnya semuanya musnah digantikan oleh bangunan hasil tangan nakal manusia. Melati mencoba menghirup nafas sebanyak mungkin dan menghembuskannya kembali. Dilihatnya Aldi dan Rena masih sibuk mengatur barisan. Membuat Melati sedikit merasa iri melihat keakraban mereka. Rafli mengajak Melati untuk bergabung bersama dalam acara peresmian. Melati hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
                 “Saat ini kami selakukan panitia menyatakan bahwa kalian semua resmi dinyatakan sebagai anggota PIK-R angkatan 2013-2014...” ucap Aldi selaku ketua panitia dihadapan  seluruh anggota ekstrakulikuler yang baru bergabung.
                 Semua anggota baru yang mengikuti acara pelantikan bertepuk tangan. Rena dan Rafli juga menepukan kedua tangannya. Merasa lega karena sebagai panitia pelaksana mereka telah menyelesaikan tugasnya. Aldi mendekati Melati yang sedang duduk di sebuah batang pohon yang tumbang. Melati memang bukan panitia ataupun anggota baru yang ingin ikut bergabung. Melati hanya sekedar ingin ikut bersama sahabat-sahabatnya menyaksikan keseruan acara. Kebetulan acara pelantikan berlangsung di hutan belakang sekolah. Aldi pun sempat berjanji akan menunjukan mawar hitam yang pernah ia janjikan padanya.
                 “Maaf ya lama menunggu...” kata Aldi.
                 “Iya nggak apa-apa kok. Salut sama kamu,” mengacungkan kedua jempolnya. “Jadi, sekarang nih?” tagih Melatih.
                 “Oke kalau mau sekarang yuk ...” ajak Aldi. Melati beranjak dari duduknya dengan bersemangat.
                 “Aldi tunggu....!” teriak Rena menghentikan langkah mereka. Aldi dan Melati menoleh ke arah Rena.
                 “Apa ada masalah?” tanya Aldi.
                 “Iya jadi gini ... Pak Anton barusan telepon, katanya print-out anggota PIK-R yang barunya hilang tapi Pak anton kan nggak punya softcopy-nya jadi Pak anton minta kamu buat kasih softcopy-nya,” ujar Rena.
                 “Yaelah cuman gitu doang, tinggal di cari di laptop aja.”
                 “Iya tapi di mananya nih...” menyodorkan tas laptop.
                 “Yaudah sini... Oh iya Mel, maaf ya tunggu bentar lagi... kamu duduk aja dulu.” Mohon Aldi dengan menyesal.
                 Dicarinya data-data yang ada di dalam laptop-nya. Setiap folder berhasil di buka tetapi ada satu file di dalam folder yang sulit dibuka sehingga membuat Aldi geram. Di kliknya icon kaspersky untuk menghilangkan virus yang ada di komputer jinjingnya. Sayangnya program anti virus terbaiknya tak mampu menghilangkan virus yang ada di laptop-nya. File dimana ia menyimpan data masih tetap tidak bisa di buka. Aldi menggerutu kesal karena ia harus bekerja dua kali.
                 “ Ren, susah nggak mau di buka, terpaksa kita harus data ulang lagi...”
                 “Sekarang?” tanya Melati kesal.
                 Aldi menghela nafas dan menjelaskan pada Melati. “Iya Mel, mau nggak mau harus di data sekarang soalnya dibutuhinnya untuk besok. Maaf ya janjinya lagi-lagi harus di tunda.”
                 “Yaudah ayuk buruan, Maaf ya Mel saya ganggu acara kalian.” Kata Rena.
                 Aldi dan Rena meninggalkannya sendirian, termasuk juga Rafli yang masih sibuk membereskan peralatan.  Saat ini Melati benar-benar merasa kecewa ditinggal sendirian. Melati tampak kesal melihat Rena dan Aldi terus bersama.
***
                 “Di... lihat Melati nggak tadi terakhir sama kamu kan?” tanya Rafli.
                 “Tadi sih di sini... tapi kok nggak ada ya?” batin Aldi gusar. “Kamu sudah cari di tempat lain?”
                 “Sudah semua spot kegiatan dicari tapi nggak ada,” menunjukan jarinya ke sekelilingnya.
                 “Aduh ada apa lagi sih?” tanya Rena menghampiri dengan bingung.
                 “Melati Ren, nggak ada, kamu lihat nggak?” tanya Aldi.
                 “Aku nggak lihat...”Rena berusaha menyembunyikan kepanikannya. Kemudian Rena dan Aldi saling menatap mencoba menebak. “Pohon Mawar!” ucap mereka bersama.
                 Rena dan Rafli mencoba mencari Melati di sekitar kebun pohon mawar sambil meneriaki nama Melati. Aldi dengan raut wajah cemas terus mencari Melati disekitar hutan. Sontak Aldi terkejut saat melihat sosok wanita yang ia kenal tergeletak di tanah. “Melatiiiiii......”  wajahnya syok.
***

Selasa, 07 Oktober 2014

Mawar Hitam - eps1



Suasana pagi di kota kembang sedikit terasa berbeda. Udara pagi di tahun ini tidak sesejuk saat Melati masih mengenakan seragam merah-putih. Beberapa orang masih terjaga dari tidurnya. Terlihat dari lampu-lampu teras yang masih menyala.  Libur panjang akan segera berakhir. Membuat sebagian orang memanfaatkan sisa waktu libur mereka. Meskipun begitu bisa diperkirakan antusias wisatawan dari luar kota masih bertahan khususnya di daerah puncak dan sekitarnya. Jarum pendek jam menunjukan jam enam pagi. Dari balik jendela terlihat wajah Melati yang turut menyambut hari-hari menjelang masuk sekolah. Tangannya mecoba menyentuh jendela, merasakan embun pagi yang menempel di balik kaca.
            “Kamu ingin keluar sayang?” tanya Ibunya yang tepat berada di belakang Melati. Kedua tangannya menyentuh bagian pundak Melati.
            Melati menoleh kepada Ibunya lalu kembali menatap suasana pagi dari balik jendela. “Iya Mah...,” jawabnya.
            “Yaudah sana ambil jaket dulu... tar kita jalan-jalan keluar.”
            “Nggak Mah, Melati sudah janji sama Rena dan Aldi buat jalan-jalan ke hutan yang ada di belakang sekolah.” Ujar Melati berharap kedua orangtua Melati mengizinkannya.
            “Tapi...,” ucapannya terhenti, memikirkan kondisi Melati.
            “Gimana Mah? Boleh yah?” tanya Melati membuyarkan lamunan Ibunya.
Tiba-tiba suara Ayahnya mendekat, Ayah Melati mencoba menghalangi Melati untuk pergi bersama kedua sahabatnya yang ia kenal semenjak duduk di bangku SD.
            “Untuk saat ini Papah nggak izinkan kamu pergi ke sana!” jawaban tegas terlontar dari mulut Ayahnya. Gairah Melati untuk keluar bersama kedua sahabatnya menjadi berubah. Kekecewaan terlihat dari raut wajahnya. Melati membalikan badannya dan berdiri menghadap Ayah dan Ibunya.
            “Kenapa nggak boleh Mah... Pah? Melati sudah sembuh kan? Melati capek Mah...!” Melati mencoba menahan amarahnya yang tak terbendung. Ayahnya tahu kalau Melati marah dan kecewa. Tapi bagaimana pun kedua orangtuanya masih khawatir terhadap kondisi Melati yang baru pulih.
***
Mengingat kedua orangtua Melati tak akan mengizinkan mereka untuk membawa Melati pergi. Mereka berdua tetap memutuskan untuk pergi ke hutan di belakang sekolah SMA. Seberkas cahaya yang masuk melalui celah rerimbunan pohon. Menyambut kedatangan awal Rena dan Aldi. Tanaman yang jarang mereka temui  tumbuh berhadapan di tengah jalan setapak yang lebarnya tak sampai satu meter. Mereka tak khawatir bila mereka hanya keluar berdua saja tanpa ditemani orang dewasa. Mengingat tak akan ada hewan buas di hutan seperti singa, macan atau serigala. Mereka hanya perlu berhati-hati terhadap ancaman hewan seperti ular yang bisa saja menghadang mereka di tengah jalan. Aldi sudah berjaga-jaga dari serangan ular dengan membawa sekantong plastik berisi garam dan sebilah kayu panjang digenggamannya. Mereka juga tak perlu khawatir akan tersesat, karena di sekitar hutan terdapat perkebunan karet. Disekitarnya masih ada orang-orang yang melakukan kegitan dengan mengambil getah dari pohon karet untuk dijadikan bahan produksi olahan. Memasuki hutan lebih dalam lagi Aldi dan Rena tak sengaja menemukan beberapa pohon mawar hutan. Dilihat disekeliling mereka bunga mawar yang masih menyembunyikan keindahannya. Seketika wajah Melati mucul dalam pikiran Aldi. Aldi tahu sekali bahwa Melati menyukai bunga mawar. Rena yang masih sibuk dengan ponselnya mencoba mengabadikan sebagian bunga mawar yang baru saja bermekaran. Untuk pertama kalinya mereka benar-benar menemukan pohon mawar yang masih alami dan terjaga keasriannya. Aldi meninggalkan Rena yang asik dengan kamera ponselnya.  Aldi mencoba menemukan sesuatu yang lain. Tak sengaja Aldi menemukan tanaman yang merambat di sebuah pohon yang besar. Tak di sangka Aldi menemukan sebuah bunga mawar hitam. Sebagian bunga mawar hitam biasanya ada yang tumbuh sebagai parasit dengan menempel pada batang atau akar pohon besar. Mawar hitam tumbuh di lingkungan yang jarang terkena matahari dan bersuhu dingin. Sebenarnya bunga mawar hitam yang ditemukan Aldi berwarna merah sama seperti bunga mawar yang ia temui sebelumnya, namun karena tinggi kepekatannya sangat tinggi sehingga tampak berwarna hitam. Warnanya yang jarang dimiliki oleh tanaman mawar pada umumnya, membuat Aldi ingin memetiknya. Rena yang melihat Aldi ingin memetik satu-satunya bunga mawar hitam itu mencoba untuk menggagalkan niat Aldi.
            “Aldi jangan....!” teriak Rena dari jauh. Teriakan Rena yang mencoba mencegah Aldi membuat Aldi kaget dan menoleh.
 Rena berlari kecil mendekati Aldi.“Aduh... jangan dipetik Aldi!” protes Rena.
            “Aduh kenapa lagi sih Ren?” melipatkan kedua tanganya tepat di atas pusarnya.
            “Kamu tahu kan mawar hitam ini jarang ada?” tanya balik Rena.
            “Iya aku tahu, tapi Melati pasti senang kalau aku membawakan mawar hitam ini...” Rena mencoba menjelaskan mengapa ia berusaha mencegah Aldi untuk tidak memetik bunga mawar tersebut.
            “Tapi sayang banget kalau mawar itu kamu petik. Bukan hanya karena langka tapi sumber makanan serangga seperti kupu-kupu dan lebah terdapat pada bunga, selain itu juga nantinya akan membantu proses penyerbukan. Siapa tahu kalau kamu membiarkannya tetap hidup mungkin akan ada jenis mawar baru lagi dari proses penyerbukan itu?”
 Aldi mengangguk. ”Aku juga sempat berfikir seperti itu, benar kata kamu mungkin akan jauh lebih baik bila kita membiarkannya tetap hidup.” Aldi sepakat dengan penjelasan yang disampaikan Rena. “Sayang sekali yah... Melati nggak bisa menikmati apa yang kita lihat sekarang.”
 Rena mencoba memberikan solusi pada Aldi. Akhirnya mereka memutuskannya untuk mengabadikan mawar  hitam itu dengan kamera ponsel.
***
“Melati sebenarnya selama ini aku menyukaimu, mungkin ini terdengar aneh tapi aku benar-benar menyukaimu.”
Melati tampak kebingungan untuk menjawab pernyataan Rafli. Ditambah lagi Rafli memohon sambil menyodorkan setangkai bunga mawar padanya. Tidak sengaja Aldi melihat Rafli sedang memohon kepada Melati untuk menjadi pacarnya saat ia berniat menemui Melati. Bila beberapa langkah lagi ia tetap maju. Aldi berfikir bila dirinya akan mengganggu usaha Rafli. Aldi berusaha bersembunyi di balik pilar yang menopang bangunan sekolah. Rasa penasaran membuat Aldi ingin sekali menoleh namun dirinya tak kuasa menahan rasa sakit yang berkecambuk di hatinya. Akhirnya ia berusaha lari dari keadaan tersebut, namun lagi-lagi Aldi harus menahan rasa sakitnya saat melihat Melati menggenggam mawar pemberian Rafli.
Dari kejauhan Rena melihat Aldi tertunduk menahan kesedihannya sambil berjalan dengan cepat. Sosok Rena tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Rena mencoba menanyakan apa yang terjadi. Aldi pun menjelaskannya pada Rena.
“Lho... Aldi ternyata kamu pergi ke sini sama Rena? Mana katanya mau kasih lihat fotonya?” suara Melati muncul di hadapan mereka di saat yang tidak tepat.
Aldi mencoba menyembunyikan gurat kesedihannya. Diajaknya Melati oleh Rena dan Aldi duduk di bangku taman.
Selayaknya aktor profesional Aldi tetap bersikap sama seperti sebelum hal tersebut mengoyak hatinya. Rena tahu bahwa saat ini suasana hati Aldi sedang tidak baik. Hebatnya Aldi masih bisa menjelaskan petualangannya menjelajahi hutan. Rena mencoba menghibur Aldi di sela-sela pembicaraan mereka. Wajah Aldi seketika berubah menjadi merah saat Rena menjelaskan usaha yang dilakukan Aldi untuk mendapatkan bunga mawar namun Rena berusaha menggagalkan aksinya tersebut. Meskipun hanya dalam bentuk gambar, namun tak surut membuat Melati penasaran ingin melihat secara langsung. Melati antusias melihat foto-foto yang di ambil dari ponsel Rena. Digesernya layar touchsreen tersebut berulang kali. Aldi dan Rena terus bercanda. Berbeda dengan Wajah Melati yang berubah menahan rasa kekecewaannya. Tak sengaja Melati menemukan beberapa foto Rena dan Aldi sewaktu di hutan. Melati mencoba bersikap biasa saja dan mengembalikan ponsel  Rani.
***

Rabu, 05 Februari 2014

Miracle In My Blog




            Desember, di saat musim hujan mulai hadir. Siang ini langit kembali mendung dan semakin mempersuram keadaan hari ini setelah aku mendapatkan kabar bahwa proposal yang diajukan dua minggu lalu kembali ditolak. Rintik-rintik gerimis mulai berjatuhan dari langit. Aku kembali berdiri dari kursi dan menatap langit sambil melihat sekitar halaman sekolah. Lama menunggu Aldi yang tak kunjung datang menjemputku, dengan terpaksa aku menerobos rintik hujan yang semakin deras, aku tidak lagi memikirkan tubuhku yang mulai basah kuyup, aku hanya ingin melindungi tas ini dari guyuran air yang mulai berjatuhan dari langit. Aku tidak mau bila nanti aku terlambat menyerahkan proposal ini, bisa jadi pementasan drama yang akan berlangsung dua minggu lagi tidak akan berjalan karena kurangnya dana yang diberikan dari pihak sekolah. Aku berlari di tengah rintik-rintik gerimis menuju halte bus yang tidak jauh letaknya dari sekolahku.
            Aku berdiri di depan halte menengok kanan dan kiri jalan, berharap ada angkutan umum yang masih kosong. Tidak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depanku, ternyata itu adalah Aldi.
            “Maaf lama menunggu, ayo naik sebelum hujan semakin deras,” ajaknya.
            Aku segera masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku berharap agar aku bisa sampai tepat waktu.
***
            Sesampainya di sebuah kantor, aku dan Aldi menghampiri meja recepcionist, dan menanyakan keberadaan Ibu Ani.
            “Maaf, Ibu Ani baru saja meniggalkan kantor,” ucapnya.
            Kecewa, itulah yang aku rasakan ketika aku mengetahui bahwa Ibu Ani sudah pergi meninggalkan kantor. Aku tertunduk sedih, begitupula dengan Aldi yang merasa bersalah karena keterlambatannya datang sehingga kami tidak bisa sampai tepat waktu.
            “Oh ya, apa boleh kami menitipkan proposal ini pada Ibu Ani?” tanya Aldi.
            Syukurlah recepcionist itu mengizinkan kami untuk menitipkan proposal. Harapan baru pun sedikit datang. Recepcionist itu terlihat sibuk menulis sambil sesekali mengangkat telepon masuk.
            “Mbak, saya letakan di sini ya Mbak, terima kasih,” Kata Aldi sambil menggeser proposal lebih dekat lagi ke arah recepcionist yang sedang sibuk itu.
***
            Saat aku bersama teman-temanku yang sedang sibuk menyiapkan pementasan. Tiba-tiba Handphone-ku berdering.
            Walaikumsalam, maaf dengan siapa?” tanyaku.
            Aku terkejut saat aku mendapat kabar dari sekertaris Ibu Ani, bahwa Ibu Ani masuk ke rumah sakit. Tidak cukup dengan pernyataan itu, aku juga kembali terkejut sekaligus tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada semua teman-temanku, bahwa Ibu Ani tidak bisa menjadi sponsor dikarenakan kondisinya saat ini. Aku kira semuanya akan berjalan lancar setelah satu hari yang lalu Ibu Ani menyatakan kesediaannya untuk menjadi sponsor pementasan kami, tapi kenyataan berkata lain, aku hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Ibu Ani bisa sembuh dari penyakitnya dan berharap akan ada jalan lain untuk menghadapi ini semua.
            Dengan terpaksa aku mengatakan hal ini kepada semua teman-temanku. Kekecewaan terlihat pada mereka saat aku mengatakan hal ini. Aku sendiri juga merasa kecewa, karena sebagai ketua pelaksana aku tidak bisa menjalankan tugasku dengan baik. Beberapa orang justru mencaciku dengan kata-kata yang tidak enak didengar.
            “Dari awal sebaiknya kita memang tidak usah mengadakan acara ini, pihak sekolah saja tidak sepenuhnya mendukung kegiatan ini. Wajar saja pihak luar banyak yang menolak proposal yang diajukan,” ucap salah satu temanku.
            Sepertinya apa yang diucapkannya memang ada benarnya, wajar saja pihak sekolah tidak terlalu mendukung, karena ekstrakulikuler ini baru berjalan dua tahun belakangan ini dan belum banyak peminatnya. Selain itu, aku mengerti dengan keluhan yang disampaikan salah satu temanku, aku hanya menganggap itu hanya ucapan sesaat karena dalam keadaan emosi. Beberapa temanku yang lain mengusulkan mengumpulkan uang dari masing-masing anggota demi kelangsungan pementasan ini.
            Setelah kami mengumpulkan uang dan menghitungnya, uang yang kami kumpulkan masih belum cukup. Sejenak aku menghela nafas dan duduk di samping Aldi. Melihat Aldi sedang bermain laptop, kemudian aku meminjamnya. Di saat merasa sedih, seperti biasa aku meluangkan sedikit waktu untuk menuangkan keluh kesahku di blog. Aku menuangkan segala kejadian yang sedang terjadi belakangan ini. Dalam kepasrahan aku tidak bisa berbuat banyak.
***
            Dua hari menjelang pementasan, kami berkumpul bersama, dan semakin sibuk mempersiapkan pementasan walaupun dengan  seadannya. Handphone-ku yang berada di tas kembali berbunyi dan aku malas untuk mengangkatnya. Aldi kemudian menyuruhku untuk mengangkat telepon tersebut, namun aku menolaknya dan justru meminta tolong kepada Aldi untuk mengangkat telepon tersebut. Aldi tersontak gembira dan membuat kami semua yang sedang sibuk, berhenti dengan aktivitas yang kami lakukan dan menoleh ke arah Aldi. Kemudian Aldi menyerahkan Handphone tersebut kepadaku.
***

           
            Lagu tersebut mengakhiri pementasan drama ini dan semua cerita panjang dan sulit yang terjadi sebelum pementasan. Pementasan drama dapat berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan yang baik dari semua orang yang hadir menyaksikan acara kami. Tulisan yang aku muat di blog dan beberapa potongan naskah drama yang aku posting tidak sengaja dilihat oleh seseorang yang sekarang menjadi sponsor acara ini. Aku berharap dengan adanya acara ini aku bisa memajukan ekstrakulikuler ini dan aku juga bersyukur karena semua ini berkat karunia-Mu karena aku percaya disetiap kesulitan selalu ada jalan lain untuk mendapatkan kemudahan.